Blogger Widgets

Kamis, 02 Mei 2013

Deep Reporting (Soal UAS)

Tulisan Tugas Kuliah Mahasiswa Komunikasi Terbaru:

Jelaskan karakteristik laporan mendalam (depth reporting) untuk media cetak, televisi, dan radio !
Apa perbedaan yang mendasar antara berita investigasi dengan laporan mendalam? Ajukan analisis anda bagaimana agar wartawan tidak terlanjur menulis berita investigasi ketika ditugaskan menulis laporan mendalam!
Bagaimana teknik yang kita lakukan untuk mengembangkan tulisan dalam laporan mendalam sehingga menghasilkan laporan yang berkualitas?
Bagaimana pola pembentukan tim dalam laporan mendalam lalu jelaskan fungsi dan tanggung jawab masing-masing anggota tim tersebut!

Bagaimana seharusnya cara analisis sebuah data yang dilakukan wartawan agar bisa diperoleh sebuah berita yang valid dan akurat?
 
Jawab
1.       Televisi :
Produksi berita televisi dilakukan sesuai SOP (standard operating procedure): Pra produksi, produksi, dan pasca produksi.
Produksi berita televisi memanfaatkan audio visual seperti apa adanya dan tanpa manipulasi. Pengambilan gambarnya dilakukan ‘as it happen’ atau saat sebuah peristiwa sedang berlangsung
Beberapa hal yang biasa dilakukan pada tahap pra produksi antara lain adalah riset dan daftar harapan atau WISHLIST. WISHLIST adalah daftar sejumlah hal yang diharapkan diperoleh tim liputan saat berada di lapangan. Salah satu unsur dalam WISHLIST adalah urutan VISUAL/SHOT LIST. VISUAL/SHOT LIST adalah urutan gambar yang diinginkan produser sehingga bisa dikatakan bahwa ini merupakan bentuk sederhana dari STORYBOARD. Untuk sebuah laporan mendalam dengan durasi 30 menit, WISHLIST dibuat berdasarkan porsi dari liputan mendalam itu yang akan dilakukan keesokan harinya. Sehingga WISHLIST yang dibuat bisa lebih dari satu dan satu WISHLIST bisa melengkapi WISHLIST lainnya. Satu SEGMEN bisa dibuat dengan 4 atau 5 wishlist.
Lama proses produksi tim liputan dalam sehari sekitar 9 jam. Jam bekerja itu sudah termasuk proses membuat ‘rough-cut’ atau edit kasar dari hasil liputan bagi campers dan skrip bagi reporter, sehingga memudahkan editor yang akan meng-edit hasil liputan. Skrip akan di-edit oleh produser dan audio visual akan di-edit oleh editor visual. Dengan demikian produksi di lapangan otomatis hanya sekitar 5 s/d 6 jam.
Dalam proses pasca produksi, hasil liputan reporter diserahkan kepada produser. ‘Rough cut’ buatan campers diserahkan ke editor dan skrip diserahkan ke produser untuk diolah lebih lanjut menjadi tayangan yang koheren selama 30 menit. Untuk laporan mendalam selama 30 menit lama proses produksi (pra, produksi dan pasca produksi) bisa menghabiskan waktu 2 pekan atau 14 hari.

Media cetak
Menyesuaikan diri dengan kaidah bahasa Jurnalistik yang benar, minimal tulisan dapat dimengerti pembaca dan tidak berbelit-belit.
Mengungkap persoalan secara kronologis, mendalam, objektif, terungkap, dan teliti dari berbagai sudut pandang (tidak boleh satu).
Suatu media massa cetak mengkaji berita mendalam dari berita langsung (straight news) yang terlebih dahulu diberitakan dalam media massa cetak yang sama.
Terdapat rapat proyeksi (rencana kegiatan) dan rapat budgeting (pendalaman objek pencarian berita) sebelum tim diterjunkan ke lapangan.
Redaktur sebagai kepala tim menentukan Terms Of Reference untuk tiap-tiap anggota tim (wartawan). Dibahas dalam rapat proyeksi.

Radio
Proses penyebaran berita melalui pemancaran (transmisi) dan lebih ke arah audio nya.
Menggunakan bahasa tutur. Langsung, kalimat mudah dimengerti (singkat, padat, sederhana, dan jelas.
Memerlukan news script, yang pembuatannya sama dengan media massa cetak.
Secara garis besar, proses penyampaiannya adalah seperti ini:

No
Pelaku
Audio
Keterangan
1.
Penyiar

SIAPA MENGATAKAN APA, DIDUKUNG FAKTA/DATA..
Siapa mengatakan apa : Ribuan buruh di Kabupeten Tangerang dan kota Tangerang, mengancam akan menutup akses jalan tol Jakarta-Tangerang, menyusul kisruh penetapan upah minimum kabupten/kota (UMK) oleh Gubernur Banten. Menurut koordinator Aliansi buruh dan Serikat buruh Tangerang,Koswara, siang tadi  menjelaskan aksi buruh akan lebih besar dari yang terjadi beberapa hari yang lalu

Fakta yang diu raikan (What is the News)
2. Operator
Insert:Koswara                                                                               

”Aksi kami akan melebihi buruh di Bekasi ”
Insert Audio

3. Penyiar
(Fakta) :Ancaman tersebut akan di gelar, jika pada pertemuan 1 Februari di Kementerian Tenaga Kerja tak dihasilkan kesepakatan. Buruh tetap menuntut para pengusaha menjalankan surat keputusan Gubernur Banten tentang pemberlakuan UMK di Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan kota Tangerang Selatan.
Pemaparan masalah -

4. (Fakta) Tidak hanya itu, menurut Koswara, buruh juga menuntut agar asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), mencabut gugatan atas surat keputusan Gubernur di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Detail - Rincian -

5. Penyiar
Ketua Apindo Bidang Pengupahan, Hariadi B Sukandani, mengungkapkan bahwa para pengusaha mengatakan revisi surat keputusan itu cacat hukum. Kalau soal besaran upah, pihaknya bersedia berdialog.
Sisi/aspek Apindo.

6. Penyiar
Kepala Biro Hukum Propinsi Banten, Samsir, menyatakan siap menghadapi gugatan Apindo. Revisi upah untuk tiga daerah di Banten oleh Gubernur dinilai sudah tepat.
Sisi/aspek Pemerintah Daerah.

7. Penyiar
Sementara itu Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat mengecam aksi blokade jalan tol yang dilakukan para buruh. Aksi tersebut bisa merusak iklam investasi di Indonesia
Sisi/aspek perindustrian.

8. Operator
Insert : Menteri Perindustrian: ”Sangat kecewa dengan itu ”
Insert Audio

9. Penyiar
Naraknya aksi buruh menuntut kenaikan upah mendorong pemerintah segera menyempurnakan regulasi penetapan upah minimum. Menurut Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ,Muhaimin berencana menetapkan upah minimum kabupten/kota dua tahun sekali. Pemerintah dalam waktu cepat akan menuntaskan senua kebutuhan regulasi dalam hubungan industrial.
Minor detail.


2.       Depth reporting mengangkat berbagai fakta untuk memberikan kontribusi pada pemahaman terhadap sebuah kisah, selain itu depth reporting melakukan pemberitahuan kepada pembaca inti kisah yang sesungguhnya secara mendalam (lengkap), seimbang dan terorganisir dengan latar belakang, yang tidak begitu saja meninggalkan pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, depth reporting memasuki sebuah penyidikan (investigasi) tentang sesuatu yang sudah ada dengan orisinil, logis dan memasukkan berbagai kepentingan yang membuat pembaca paham bukan kepada siapa dan apa, melainkan kepada bagaimana dan yang terpenting ialah mengapa. Perbedaan antara berita investigasi dengan depth reporting dapat dilihat dari wartawannya, wartawan investigasi bekerja dengan ketidakjelasan materi liputan, waktu peliputan membutuhkan waktu yang lama, membutuhkan kesabaran dan ketekunan, serta imajinasi pada tiap hari pencarian fakta, wartawan investigasi seperti mengalami penolakan, penghadang, dan kerap kecaman atau keadaan benar-benar berbahaya, waktu deadline bukanlah esok atau hari-hari kemudian, melainkan dapat berlangsung bulanan, sebagai sebuah pelaporan jurnalistik, investigasi memiliki unsur kemendalaman sedangkan depth reporting mengandung unsur keluasan, berita yang ditulis wartawan investigasi disusun secara mendalam dan depth reporting menjadi salah satu cara atau alat bagaimana investigasi diliput dan ditulis. Salah satu hal paling mendasar yang membedakan antara depth reporting dan berita investigasi adalah ada atau tidak adanya hipotesis dalam penelusuran tersebut. Dalam peliputannya, berita investigasi memakan waktu yang lebih lama dari depth reporting. Selain itu depth reporting juga menjelaskan keterkaitan dan perkembangan dari sebuah kisah yang terjadi, bukan bermaksud untuk menemukan suatu kasus yang baru yang sama sekali belum diketahui oleh masyarakat seperti dalam berita investigasi.

Seorang redaktur (ketua tim depth reporting) ataupun anggota tim (wartawan) ketika mendapatkan data yang berlebih harus pintar memilah mana berita yang relevan dan yang tidak. Jangan segan-segan membuang data yang tidak perlu. Dalam sebuah berita pasti ada ‘pelaku utama’ dan ‘pemain figuran’. Jangan sekali-kali memberi porsi yang besar pada ‘pemain figuran’ sehingga bisa menenggelamkan ‘pemain utama’. Membuat outline sangat perlu untuk memudahkan tim dalam mengolah data. Outline tersebut terdapat dalam Terms of Reference (media cetak dan radio) atau Wish list (media televisi). Outline akan mengatur lalu-lintas informasi, dan membagi permasalahan.

3.   Sebuah laporan mendalam adalah karya jurnalistik yang didapat dari pengembangan topik berita langsung. Pengembangan itu bisa dari banyak segi, misalnya seperti contoh berita langsung yang dikutip dari salah satu media cetak yaitu dari koran Kompas, Jum’at, 19 Maret 2010, yang memuat tentang berita terorisme  yang bergerak di Aceh, berita ini menguak tentang kontak tembak antara Polda NAD dengan sekelompok teroris  yang dilakukan oleh Abu Yusuf, salah seorang teroris yang berperan sebagai pimpinan pelatihan menembak dan membaca peta kelompok teroris itu dikawasan pegunungan Bun, Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

   “Kontak tembak ini bermula dari sebuah sms yang dikirimkan oleh Abu Yusuf di kawasan pegunungan Bun kepada seseorang di Solo, Jawa Tengah pada 27 Februari 2010,  dimana sms ini berbunyi “Tandzim Al-Qaidah Indonesia Cabang Serambi Mekah telah bertahan untuk melanjutkan jihad terhadap musush-musuh Alloh : kaum Yahudi, Salibis, dan Murtadin serta meminta musuh-musuh Alloh untuk segera meninggalkan tanah Serambi Mekah”. Pesan singkat tersebut bukanlah hanya ancaman yang berisikan gertakan sambal semata, hal ini dapat kita ketahui bahwa sepanjang Kamis (4/3) lalu, belasan kali ambulans milik Kepolisian Daerah (polda) NAD bolak-balik Banda Aceh-Lamkabeu, Aceh Besar untuk mengantar anggota polisi yang tertembak dalam pengejaran kelompok bersenjata yang dipimpin oleh Abu Yusuf itu. Kontak tembak yang berlangsung tersebut menewaskan dua anggota Brimob Polda , seorang warga sipil serta seorang anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror, sehingga esok harinya Mabes Polri menyatakan bahwa kelompok bersenjata tersebut sangatlah menguasai medan perang ini, mayat tiga polisi yang tewas itupun baru bisa diambil dua hari kemudian karena aparat tidak berani mendekat ke lokasi kontak tembak.”

     Dalam pengembangan berita ini harus terdapat beberapa pernyataan yang menyatakan bahwa ada alasan mengapa aceh menjadi medan perang, bisa dikarenakan banyak alasan, alasan tersebut misalnya antara lain aceh yang letaknya stategis, mayoritas masyarakat aceh adalah muslim, dan Aceh memiliki sejarah mendukung pergerakan Darul Islam (DI) yang diproklamirkan oleh SM Kartosuwiryo di Jawa Barat.
Berita yang telah sekilas dijelaskan diatas tersebut bisa dikatakan sebagai salah satu berita depth reporting, bila berita tersebut menggambarkan kepada kita mengenai keseluruhan apa yang terjadi dari kisah yang terjadi, disini terdapat kelengkapan pengisahan serta terdapat kronologi peristiwa yang detail yang memberikan gambaran secara jelas tentang berita tersebut kepada masyarakat.
Jika dijelaskan melalui unsur 5W+1H, berita ini harus memenuhi unsur tersebut, Who (siapa) menyatakan siapa saja yang terlibat dengan peristiwa, disini ialah teroris di Aceh dengan Polisi Daerah (Polda) Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Where (dimana) menyatakan tempat kejadiannya berlangsung , dalam berita ini kejadian berlangsung dikawasan pegunungan Bun, Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Why (mengapa) menyatakan mengapa peristiwa tersebut terjadi dan sebab yang melatarbelakangi masalah tersebut yaitu diketahuinya teroris yang mengirim pesan singkat kepada seseorang dan Polisi Daerah mengetahuinya, What (apa) menyatakan peristiwa apa yang terjadi, disini dijelaskan yang terjadi adalah terjadinya kontak tembak antara Polisi Daerah (polda) Aceh Besar dengan teroris yang dipimpin oleh Abu Yusuf di daerah Aceh. When (kapan) menyatakan waktu terjadinya, disini dijelaskan bahwa kontak tembak terjadi 22 Februari 2010, pernyataan ini berada pada kalimat “ Seorang anggota Brimob Polda NAD yang ikut dalam pengepungan itu sejak 22 Februari 2010 mengisahkan, pergerakan kelompok itu dipegunungan cukup sulit diikuti “ dan unsur teakhir yaitu How(bagaimana) yang menjelaskan bagaimana peristiwa tersebut terjadi, yang sudah dijelaskan diatas. Depth reporting harus  melakukan pemberitahuan kepada pembaca inti kisah yang sesungguhnya secara mendalam (lengkap), seimbang dan terorganisir dengan latar belakang, yang tidak begitu saja meninggalkan pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, didalam depth reporting ini hendaknya memasuki sebuah penyidikan tentang sesuatu yang sudah ada dengan orisinil, logis dan memasukkan berbagai kepentingan yang membuat pembaca paham bukan kepada siapa dan apa, melainkan kepada bagaimana dan yang terpenting ialah mengapa.Begitulah kurang lebih bagaimana cara mengembangkan sebuah depth reporting.

4.    Model pembentukan suatu tim pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman pada 1965. Teori ini dikenal sebagai salah satu teori pembentukan tim yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah konsep ini dicetuskan. Teori ini memfokuskan pada cara suatu tim menghadapi suatu tugas mulai dari awal pembentukan tim hingga proyek selesai. Selanjutnya Tuckman menambahkan tahap kelima yaitu adjourning dan transforming untuk melengkapi teori ini.
Tahap 1 – Forming
Pada tahap ini, kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota tim cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum bisa saling percaya. Waktu banyak dihabiskan untuk merencanakan, mengumpulkan infomasi dan mendekatkan diri satu sama lain.
Tahap 2 – Storming
Pada tahap ini tim mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah apa yang harus mereka selesaikan, bagaimana fungsi mereka masing-masing dan model kepemimpinan seperti apa yang dapat mereka terima. Anggota tim saling terbuka dan mengkonfrontasikan ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula beberapa tim yang mandek pada tahap ini. Tahap storming sangatlah penting untuk perkembangan suatu tim. Tahap ini bisa saja menyakitkan bagi anggota tim yang menghindari konflik. Anggota tim harus memiliki toleransi terhadap perbedaan yang ada.
Tahap 3 – Norming
Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota tim. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. tim mulai menemukan haromoni seiring dengan kesepakatan yang mereka buat mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang digunakan. Pada tahap ini, anggota tim mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi penting masing-masing anggota untuk tim.
Tahap 4 – Performing
Tim pada tahap ini dapat berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota tim saling tergantung satu sama lainnya dan mereka saling respek dalam berkomunikasi. Supervisor dari kelompok ini bersifat partisipatif. Keputusan penting justru banyak diambil oleh tim.
Tahap 5 – Adjourning dan Transforming
Ini adalah tahap yang terakhir dimana proyek berakhir dan tim membubarkan diri. tim bisa saja kembali pada tahap manapun ketika mereka mengalami perubahan (transforming). Misalnya jika ada review mengenai goal ataupun ada perubahan anggota tim.
Dalam membangun sebuah tim, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
Memahami dinamika kelompok dan prosesnya, serta apa implikasinya bagi pelaku dan praktek supervisor.
Menyadari arti penting untuk mempengaruhi dan menetapkan norma kelompok sehingga mereka mendukung bagi pencapaian hasil kerja yang baik.
Memahami pentingnya mendengarkan orang lain, bukan berpegang teguh pada posisi dan pendapatnya
Setiap pribadi dalam tim memiliki latar belakang, nilai-nilai dan harapan masing-masing. Suasana yang konstruktif bagi berlangsungnya sikap saling mendukung dan upaya kerjasama akan tercipta melalui:

ü Upaya mendorong anggota tim untuk memandang tim sebagai sumber gagasan, tehnik pelaksanaan, bantuan dan dukungan.
ü  Upaya mendorong tim untuk menyibukkan diri dengan berbagai usulan yang konstruktif.
ü  Mendorong anggota tim untuk berani mengambil inisiatif dan melakukan tindakan.
ü  Menjamin bahwa semua pertemuan dan diskusi formal yang dilakukan tim berlangsung efisien.
ü Mendorong semua anggota untuk menuntaskan segala persoalan dan ketidaksepakatan secara terbuka dan konstruktif, bukannya menekan atau menghambatnya.

5.     Seorang wartawan harus memiliki pola berpikir lateral dalam setiap pengumpulan berita. Cara berpikir ini adalah cara berpikir kreatif, mencari alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang yang paling mendukung hasil akhir suatu masalah. Prinsip dasar berpikir lateral adalah setiap cara khusus untuk melihat sesuatu diantara banyak kemungkinan cara lain. Pola berpikir ini memperlihatkan bahwa bahan-bahan yang dirangkai memberikan satu sudut pandang yang dapat dirangkai. Titik beratnya tidak ditujukan pada usaha memecahkan masalah, tetapi pada lingkungan yang ada di sekitar masalah. Tujuan berpikir lateral adalah untuk mempermasalahkan setiap asumsi dalam berita. Contohnya saja, kasus anak-anak yang suka hilang dari orang tuanya ketika berada di tempat keramaian. Dalam kasus ini, banyak pendekatan masalah yang tampak sebagai pemecahan masalahnya. Namun pada situasi lain, seorang wartawan mesti melakukan pendekatan untuk melukiskan suatu cara penanganan masalah yang paling sesuai diantara semua cara pemecahan masalah yang ada. Dari kasus di atas, masalah banyaknya anak-anak yang tersesat melalui suatu pendekatan dari kumpulan data statistik, ternyata terungkap betapa banyak orang tua yang membawa anak-anaknya ke dalam kerumunan karena para orang tua tidak menghendaki anak-anaknya sendirian berada di rumah. Dengan pola berpikir lateral ini, seorang wartawan bisa menentukan angle dari suatu permasalahan untuk diberitakan.
Dalam menantang asumsi, berarti menentang pentingnya batasan, dan berarti pula menantang kebenaran secara individual. Sedangkan dalam berpikir lateral, umumnya tidak ada pertanyaan yang menyerang asumsi yang salah. Dari pola berpikir yang seperti ini, seorang wartawan akan mencari dan mengumpulkan data. Dimulai dari tahap pengamatan (riset) dan wawancara, lalu dilanjutkan dengan mengolah data-datanya. Wawancara disini juga patut dipertimbangkan, apakah narasumber yang ditanya itu punya kapasitas yang baik atau tidak. Wartawan juga mesti memanfaatkan teori probabilitas dalam risetnya. Dengan menggunakan metode statistika, peluang benar-salahnya suatu data yang diterima dapat diperhitungkan. Ini berguna untuk semakin mengakuratkan berita. Intinya adalah cek dan ricek. Pemeriksaan bisa menggunakan pembanding referensi, menanyakan ulang ke narasumber, mendatangi lokasi peristiwa, memutar balik pita rekaman, memeriksa foto, dan lain-lain. Teknik lain yang bisa dipakai dalam mengolah berita adalah teknik cover both story. Biasanya teknik ini dipakai untuk reportase terhadap konflik dua pihak. Caranya adalah dengan mewawancarai kedua pihak dan disajikan dalam reportase yang berimbang. Pihak ketiga yang netral juga patut dipertimbangkan untuk menilai konflik yang terjadi untuk mengurangi bias diantara keduanya. (Abdu Faisal)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

 

Seputar Kita . Copyright 2013. All Rights Reserved. Revolution Theme-Template. Modified by Admin