Tulisan
Tugas Kuliah Mahasiswa Komunikasi Terbaru:
Jelaskan
karakteristik laporan mendalam (depth reporting) untuk media cetak, televisi,
dan radio !
Apa
perbedaan yang mendasar antara berita investigasi dengan laporan mendalam?
Ajukan analisis anda bagaimana agar wartawan tidak terlanjur menulis berita
investigasi ketika ditugaskan menulis laporan mendalam!
Bagaimana
teknik yang kita lakukan untuk mengembangkan tulisan dalam laporan mendalam
sehingga menghasilkan laporan yang berkualitas?
Bagaimana
pola pembentukan tim dalam laporan mendalam lalu jelaskan fungsi dan tanggung
jawab masing-masing anggota tim tersebut!
Bagaimana
seharusnya cara analisis sebuah data yang dilakukan wartawan agar bisa
diperoleh sebuah berita yang valid dan akurat?
Jawab
1. Televisi :
Produksi
berita televisi dilakukan sesuai SOP (standard operating procedure): Pra
produksi, produksi, dan pasca produksi.
Produksi
berita televisi memanfaatkan audio visual seperti apa adanya dan tanpa
manipulasi. Pengambilan gambarnya dilakukan ‘as it happen’ atau saat sebuah
peristiwa sedang berlangsung
Beberapa
hal yang biasa dilakukan pada tahap pra produksi antara lain adalah riset dan
daftar harapan atau WISHLIST. WISHLIST adalah daftar sejumlah hal yang
diharapkan diperoleh tim liputan saat berada di lapangan. Salah satu unsur
dalam WISHLIST adalah urutan VISUAL/SHOT LIST. VISUAL/SHOT LIST adalah urutan
gambar yang diinginkan produser sehingga bisa dikatakan bahwa ini merupakan
bentuk sederhana dari STORYBOARD. Untuk sebuah laporan mendalam dengan durasi
30 menit, WISHLIST dibuat berdasarkan porsi dari liputan mendalam itu yang akan
dilakukan keesokan harinya. Sehingga WISHLIST yang dibuat bisa lebih dari satu
dan satu WISHLIST bisa melengkapi WISHLIST lainnya. Satu SEGMEN bisa dibuat
dengan 4 atau 5 wishlist.
Lama
proses produksi tim liputan dalam sehari sekitar 9 jam. Jam bekerja itu sudah
termasuk proses membuat ‘rough-cut’ atau edit kasar dari hasil liputan bagi
campers dan skrip bagi reporter, sehingga memudahkan editor yang akan meng-edit
hasil liputan. Skrip akan di-edit oleh produser dan audio visual akan di-edit
oleh editor visual. Dengan demikian produksi di lapangan otomatis hanya sekitar
5 s/d 6 jam.
Dalam
proses pasca produksi, hasil liputan reporter diserahkan kepada produser.
‘Rough cut’ buatan campers diserahkan ke editor dan skrip diserahkan ke
produser untuk diolah lebih lanjut menjadi tayangan yang koheren selama 30
menit. Untuk laporan mendalam selama 30 menit lama proses produksi (pra,
produksi dan pasca produksi) bisa menghabiskan waktu 2 pekan atau 14 hari.
Media
cetak
Menyesuaikan
diri dengan kaidah bahasa Jurnalistik yang benar, minimal tulisan dapat
dimengerti pembaca dan tidak berbelit-belit.
Mengungkap
persoalan secara kronologis, mendalam, objektif, terungkap, dan teliti dari
berbagai sudut pandang (tidak boleh satu).
Suatu
media massa cetak mengkaji berita mendalam dari berita langsung (straight news)
yang terlebih dahulu diberitakan dalam media massa cetak yang sama.
Terdapat
rapat proyeksi (rencana kegiatan) dan rapat budgeting (pendalaman objek
pencarian berita) sebelum tim diterjunkan ke lapangan.
Redaktur
sebagai kepala tim menentukan Terms Of Reference untuk tiap-tiap anggota tim
(wartawan). Dibahas dalam rapat proyeksi.
Radio
Proses
penyebaran berita melalui pemancaran (transmisi) dan lebih ke arah audio nya.
Menggunakan
bahasa tutur. Langsung, kalimat mudah dimengerti (singkat, padat, sederhana,
dan jelas.
Memerlukan
news script, yang pembuatannya sama dengan media massa cetak.
Secara
garis besar, proses penyampaiannya adalah seperti ini:
No
Pelaku
Audio
Keterangan
1.
Penyiar
SIAPA
MENGATAKAN APA, DIDUKUNG FAKTA/DATA..
Siapa
mengatakan apa : Ribuan buruh di Kabupeten Tangerang dan kota Tangerang,
mengancam akan menutup akses jalan tol Jakarta-Tangerang, menyusul kisruh
penetapan upah minimum kabupten/kota (UMK) oleh Gubernur Banten. Menurut
koordinator Aliansi buruh dan Serikat buruh Tangerang,Koswara, siang tadi menjelaskan aksi buruh akan lebih besar dari
yang terjadi beberapa hari yang lalu
Fakta
yang diu raikan (What is the News)
2. Operator
Insert:Koswara
”Aksi
kami akan melebihi buruh di Bekasi ”
Insert
Audio
3. Penyiar
(Fakta)
:Ancaman tersebut akan di gelar, jika pada pertemuan 1 Februari di Kementerian
Tenaga Kerja tak dihasilkan kesepakatan. Buruh tetap menuntut para pengusaha
menjalankan surat keputusan Gubernur Banten tentang pemberlakuan UMK di
Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan kota Tangerang Selatan.
Pemaparan
masalah -
4. (Fakta)
Tidak hanya itu, menurut Koswara, buruh juga menuntut agar asosiasi Pengusaha
Indonesia (Apindo), mencabut gugatan atas surat keputusan Gubernur di
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Detail
- Rincian -
5. Penyiar
Ketua
Apindo Bidang Pengupahan, Hariadi B Sukandani, mengungkapkan bahwa para
pengusaha mengatakan revisi surat keputusan itu cacat hukum. Kalau soal besaran
upah, pihaknya bersedia berdialog.
Sisi/aspek
Apindo.
6. Penyiar
Kepala
Biro Hukum Propinsi Banten, Samsir, menyatakan siap menghadapi gugatan Apindo.
Revisi upah untuk tiga daerah di Banten oleh Gubernur dinilai sudah tepat.
Sisi/aspek
Pemerintah Daerah.
7. Penyiar
Sementara
itu Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat mengecam aksi blokade jalan
tol yang dilakukan para buruh. Aksi tersebut bisa merusak iklam investasi di
Indonesia
Sisi/aspek
perindustrian.
8. Operator
Insert
: Menteri Perindustrian: ”Sangat kecewa dengan itu ”
Insert
Audio
9. Penyiar
Naraknya
aksi buruh menuntut kenaikan upah mendorong pemerintah segera menyempurnakan
regulasi penetapan upah minimum. Menurut Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
,Muhaimin berencana menetapkan upah minimum kabupten/kota dua tahun sekali.
Pemerintah dalam waktu cepat akan menuntaskan senua kebutuhan regulasi dalam
hubungan industrial.
Minor
detail.
2. Depth reporting mengangkat berbagai
fakta untuk memberikan kontribusi pada pemahaman terhadap sebuah kisah, selain
itu depth reporting melakukan pemberitahuan kepada pembaca inti kisah yang
sesungguhnya secara mendalam (lengkap), seimbang dan terorganisir dengan latar
belakang, yang tidak begitu saja meninggalkan pertanyaan yang diajukan oleh
pembaca, depth reporting memasuki sebuah penyidikan (investigasi) tentang
sesuatu yang sudah ada dengan orisinil, logis dan memasukkan berbagai
kepentingan yang membuat pembaca paham bukan kepada siapa dan apa, melainkan
kepada bagaimana dan yang terpenting ialah mengapa. Perbedaan antara berita
investigasi dengan depth reporting dapat dilihat dari wartawannya, wartawan
investigasi bekerja dengan ketidakjelasan materi liputan, waktu peliputan
membutuhkan waktu yang lama, membutuhkan kesabaran dan ketekunan, serta
imajinasi pada tiap hari pencarian fakta, wartawan investigasi seperti
mengalami penolakan, penghadang, dan kerap kecaman atau keadaan benar-benar
berbahaya, waktu deadline bukanlah esok atau hari-hari kemudian, melainkan dapat
berlangsung bulanan, sebagai sebuah pelaporan jurnalistik, investigasi memiliki
unsur kemendalaman sedangkan depth reporting mengandung unsur keluasan, berita
yang ditulis wartawan investigasi disusun secara mendalam dan depth reporting
menjadi salah satu cara atau alat bagaimana investigasi diliput dan ditulis.
Salah satu hal paling mendasar yang membedakan antara depth reporting dan
berita investigasi adalah ada atau tidak adanya hipotesis dalam penelusuran
tersebut. Dalam peliputannya, berita investigasi memakan waktu yang lebih lama
dari depth reporting. Selain itu depth reporting juga menjelaskan keterkaitan
dan perkembangan dari sebuah kisah yang terjadi, bukan bermaksud untuk
menemukan suatu kasus yang baru yang sama sekali belum diketahui oleh masyarakat
seperti dalam berita investigasi.
Seorang
redaktur (ketua tim depth reporting) ataupun anggota tim (wartawan) ketika
mendapatkan data yang berlebih harus pintar memilah mana berita yang relevan
dan yang tidak. Jangan segan-segan membuang data yang tidak perlu. Dalam sebuah
berita pasti ada ‘pelaku utama’ dan ‘pemain figuran’. Jangan sekali-kali
memberi porsi yang besar pada ‘pemain figuran’ sehingga bisa menenggelamkan
‘pemain utama’. Membuat outline sangat perlu untuk memudahkan tim dalam mengolah
data. Outline tersebut terdapat dalam Terms of Reference (media cetak dan
radio) atau Wish list (media televisi). Outline akan mengatur lalu-lintas
informasi, dan membagi permasalahan.
3. Sebuah laporan mendalam adalah karya
jurnalistik yang didapat dari pengembangan topik berita langsung. Pengembangan
itu bisa dari banyak segi, misalnya seperti contoh berita langsung yang dikutip
dari salah satu media cetak yaitu dari koran Kompas, Jum’at, 19 Maret 2010,
yang memuat tentang berita terorisme
yang bergerak di Aceh, berita ini menguak tentang kontak tembak antara
Polda NAD dengan sekelompok teroris yang
dilakukan oleh Abu Yusuf, salah seorang teroris yang berperan sebagai pimpinan
pelatihan menembak dan membaca peta kelompok teroris itu dikawasan pegunungan
Bun, Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
“Kontak tembak ini bermula dari sebuah sms
yang dikirimkan oleh Abu Yusuf di kawasan pegunungan Bun kepada seseorang di
Solo, Jawa Tengah pada 27 Februari 2010,
dimana sms ini berbunyi “Tandzim Al-Qaidah Indonesia Cabang Serambi
Mekah telah bertahan untuk melanjutkan jihad terhadap musush-musuh Alloh : kaum
Yahudi, Salibis, dan Murtadin serta meminta musuh-musuh Alloh untuk segera
meninggalkan tanah Serambi Mekah”. Pesan singkat tersebut bukanlah hanya
ancaman yang berisikan gertakan sambal semata, hal ini dapat kita ketahui bahwa
sepanjang Kamis (4/3) lalu, belasan kali ambulans milik Kepolisian Daerah
(polda) NAD bolak-balik Banda Aceh-Lamkabeu, Aceh Besar untuk mengantar anggota
polisi yang tertembak dalam pengejaran kelompok bersenjata yang dipimpin oleh
Abu Yusuf itu. Kontak tembak yang berlangsung tersebut menewaskan dua anggota
Brimob Polda , seorang warga sipil serta seorang anggota Detasemen Khusus 88
Antiteror, sehingga esok harinya Mabes Polri menyatakan bahwa kelompok
bersenjata tersebut sangatlah menguasai medan perang ini, mayat tiga polisi
yang tewas itupun baru bisa diambil dua hari kemudian karena aparat tidak
berani mendekat ke lokasi kontak tembak.”
Dalam pengembangan berita ini harus
terdapat beberapa pernyataan yang menyatakan bahwa ada alasan mengapa aceh
menjadi medan perang, bisa dikarenakan banyak alasan, alasan tersebut misalnya
antara lain aceh yang letaknya stategis, mayoritas masyarakat aceh adalah
muslim, dan Aceh memiliki sejarah mendukung pergerakan Darul Islam (DI) yang
diproklamirkan oleh SM Kartosuwiryo di Jawa Barat.
Berita
yang telah sekilas dijelaskan diatas tersebut bisa dikatakan sebagai salah satu
berita depth reporting, bila berita tersebut menggambarkan kepada kita mengenai
keseluruhan apa yang terjadi dari kisah yang terjadi, disini terdapat
kelengkapan pengisahan serta terdapat kronologi peristiwa yang detail yang
memberikan gambaran secara jelas tentang berita tersebut kepada masyarakat.
Jika
dijelaskan melalui unsur 5W+1H, berita ini harus memenuhi unsur tersebut, Who
(siapa) menyatakan siapa saja yang terlibat dengan peristiwa, disini ialah
teroris di Aceh dengan Polisi Daerah (Polda) Aceh Besar, Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD), Where (dimana) menyatakan tempat kejadiannya berlangsung ,
dalam berita ini kejadian berlangsung dikawasan pegunungan Bun, Jalin,
Kecamatan Jantho, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Why (mengapa)
menyatakan mengapa peristiwa tersebut terjadi dan sebab yang melatarbelakangi
masalah tersebut yaitu diketahuinya teroris yang mengirim pesan singkat kepada
seseorang dan Polisi Daerah mengetahuinya, What (apa) menyatakan peristiwa apa
yang terjadi, disini dijelaskan yang terjadi adalah terjadinya kontak tembak
antara Polisi Daerah (polda) Aceh Besar dengan teroris yang dipimpin oleh Abu
Yusuf di daerah Aceh. When (kapan) menyatakan waktu terjadinya, disini
dijelaskan bahwa kontak tembak terjadi 22 Februari 2010, pernyataan ini berada
pada kalimat “ Seorang anggota Brimob Polda NAD yang ikut dalam pengepungan itu
sejak 22 Februari 2010 mengisahkan, pergerakan kelompok itu dipegunungan cukup
sulit diikuti “ dan unsur teakhir yaitu How(bagaimana) yang menjelaskan
bagaimana peristiwa tersebut terjadi, yang sudah dijelaskan diatas. Depth
reporting harus melakukan pemberitahuan
kepada pembaca inti kisah yang sesungguhnya secara mendalam (lengkap), seimbang
dan terorganisir dengan latar belakang, yang tidak begitu saja meninggalkan
pertanyaan yang diajukan oleh pembaca, didalam depth reporting ini hendaknya
memasuki sebuah penyidikan tentang sesuatu yang sudah ada dengan orisinil,
logis dan memasukkan berbagai kepentingan yang membuat pembaca paham bukan
kepada siapa dan apa, melainkan kepada bagaimana dan yang terpenting ialah
mengapa.Begitulah kurang lebih bagaimana cara mengembangkan sebuah depth
reporting.
4. Model pembentukan suatu tim pertama kali
diajukan oleh Bruce Tackman pada 1965. Teori ini dikenal sebagai salah satu
teori pembentukan tim yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah
konsep ini dicetuskan. Teori ini memfokuskan pada cara suatu tim menghadapi
suatu tugas mulai dari awal pembentukan tim hingga proyek selesai. Selanjutnya
Tuckman menambahkan tahap kelima yaitu adjourning dan transforming untuk
melengkapi teori ini.
Tahap
1 – Forming
Pada
tahap ini, kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota tim
cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka
belum saling mengenal dan belum bisa saling percaya. Waktu banyak dihabiskan
untuk merencanakan, mengumpulkan infomasi dan mendekatkan diri satu sama lain.
Tahap
2 – Storming
Pada
tahap ini tim mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas yang mereka
hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah apa yang harus mereka
selesaikan, bagaimana fungsi mereka masing-masing dan model kepemimpinan
seperti apa yang dapat mereka terima. Anggota tim saling terbuka dan
mengkonfrontasikan ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa
kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula beberapa tim yang mandek
pada tahap ini. Tahap storming sangatlah penting untuk perkembangan suatu tim.
Tahap ini bisa saja menyakitkan bagi anggota tim yang menghindari konflik.
Anggota tim harus memiliki toleransi terhadap perbedaan yang ada.
Tahap
3 – Norming
Terdapat
kesepakatan dan konsensus antara anggota tim. Peranan dan tanggung jawab telah
jelas. tim mulai menemukan haromoni seiring dengan kesepakatan yang mereka buat
mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang digunakan. Pada tahap ini, anggota
tim mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat
kontribusi penting masing-masing anggota untuk tim.
Tahap
4 – Performing
Tim
pada tahap ini dapat berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan
efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota tim
saling tergantung satu sama lainnya dan mereka saling respek dalam
berkomunikasi. Supervisor dari kelompok ini bersifat partisipatif. Keputusan
penting justru banyak diambil oleh tim.
Tahap
5 – Adjourning dan Transforming
Ini
adalah tahap yang terakhir dimana proyek berakhir dan tim membubarkan diri. tim
bisa saja kembali pada tahap manapun ketika mereka mengalami perubahan
(transforming). Misalnya jika ada review mengenai goal ataupun ada perubahan
anggota tim.
Dalam
membangun sebuah tim, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
Memahami
dinamika kelompok dan prosesnya, serta apa implikasinya bagi pelaku dan praktek
supervisor.
Menyadari
arti penting untuk mempengaruhi dan menetapkan norma kelompok sehingga mereka
mendukung bagi pencapaian hasil kerja yang baik.
Memahami
pentingnya mendengarkan orang lain, bukan berpegang teguh pada posisi dan
pendapatnya
Setiap
pribadi dalam tim memiliki latar belakang, nilai-nilai dan harapan
masing-masing. Suasana yang konstruktif bagi berlangsungnya sikap saling mendukung
dan upaya kerjasama akan tercipta melalui:
ü
Upaya mendorong anggota tim untuk memandang tim sebagai sumber gagasan, tehnik
pelaksanaan, bantuan dan dukungan.
ü Upaya mendorong tim untuk menyibukkan diri
dengan berbagai usulan yang konstruktif.
ü Mendorong anggota tim untuk berani mengambil
inisiatif dan melakukan tindakan.
ü Menjamin bahwa semua pertemuan dan diskusi
formal yang dilakukan tim berlangsung efisien.
ü
Mendorong semua anggota untuk menuntaskan segala persoalan dan ketidaksepakatan
secara terbuka dan konstruktif, bukannya menekan atau menghambatnya.
5. Seorang wartawan harus memiliki pola
berpikir lateral dalam setiap pengumpulan berita. Cara berpikir ini adalah cara
berpikir kreatif, mencari alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut
pandang yang paling mendukung hasil akhir suatu masalah. Prinsip dasar berpikir
lateral adalah setiap cara khusus untuk melihat sesuatu diantara banyak
kemungkinan cara lain. Pola berpikir ini memperlihatkan bahwa bahan-bahan yang
dirangkai memberikan satu sudut pandang yang dapat dirangkai. Titik beratnya
tidak ditujukan pada usaha memecahkan masalah, tetapi pada lingkungan yang ada
di sekitar masalah. Tujuan berpikir lateral adalah untuk mempermasalahkan
setiap asumsi dalam berita. Contohnya saja, kasus anak-anak yang suka hilang
dari orang tuanya ketika berada di tempat keramaian. Dalam kasus ini, banyak
pendekatan masalah yang tampak sebagai pemecahan masalahnya. Namun pada situasi
lain, seorang wartawan mesti melakukan pendekatan untuk melukiskan suatu cara
penanganan masalah yang paling sesuai diantara semua cara pemecahan masalah
yang ada. Dari kasus di atas, masalah banyaknya anak-anak yang tersesat melalui
suatu pendekatan dari kumpulan data statistik, ternyata terungkap betapa banyak
orang tua yang membawa anak-anaknya ke dalam kerumunan karena para orang tua
tidak menghendaki anak-anaknya sendirian berada di rumah. Dengan pola berpikir
lateral ini, seorang wartawan bisa menentukan angle dari suatu permasalahan
untuk diberitakan.
Dalam
menantang asumsi, berarti menentang pentingnya batasan, dan berarti pula
menantang kebenaran secara individual. Sedangkan dalam berpikir lateral,
umumnya tidak ada pertanyaan yang menyerang asumsi yang salah. Dari pola
berpikir yang seperti ini, seorang wartawan akan mencari dan mengumpulkan data.
Dimulai dari tahap pengamatan (riset) dan wawancara, lalu dilanjutkan dengan
mengolah data-datanya. Wawancara disini juga patut dipertimbangkan, apakah
narasumber yang ditanya itu punya kapasitas yang baik atau tidak. Wartawan juga
mesti memanfaatkan teori probabilitas dalam risetnya. Dengan menggunakan metode
statistika, peluang benar-salahnya suatu data yang diterima dapat
diperhitungkan. Ini berguna untuk semakin mengakuratkan berita. Intinya adalah
cek dan ricek. Pemeriksaan bisa menggunakan pembanding referensi, menanyakan
ulang ke narasumber, mendatangi lokasi peristiwa, memutar balik pita rekaman,
memeriksa foto, dan lain-lain. Teknik lain yang bisa dipakai dalam mengolah
berita adalah teknik cover both story. Biasanya teknik ini dipakai untuk
reportase terhadap konflik dua pihak. Caranya adalah dengan mewawancarai kedua
pihak dan disajikan dalam reportase yang berimbang. Pihak ketiga yang netral
juga patut dipertimbangkan untuk menilai konflik yang terjadi untuk mengurangi
bias diantara keduanya. (Abdu Faisal)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar