Blogger Widgets

Selasa, 07 Mei 2013

Pesona Kawah Putih


Kawah Putih adalah sebuah danau berkawah dari Gunung Patuha, dengan ketinggian 2.434 m dpl. Nama patuha sendiri konon berasal dari kata pak tua. Oleh karenanya masyarakat setempat sering menyebutnya Gunung Sepuh (dalam bahasa sunda berarti tua).

Lebih dari seabad yang lalu, puncak Gunung Patuha oleh masyarakat sekitar dianggap angker. Misteri Kawah Putih dengan segala keindahannya, baru terungkap pada tahun 1837, oleh seorang Belanda peranakan Jerman, bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864).

Ketika melakukan perjalanan ke Gunung Patuha, Junghuhn sempat menanyakan kepada masyarakat tentang suasana alam yang dirasakannya begitu hening dan sunyi. Beliau mendapat jawaban dari masyarakat sekitar bahwa daerah tersebut merupakan daerah angker, sebagai kerajaan jin dan tempat bersemayam roh para leluhur.

Saking angkernya, burung pun akan jatuh dan mati bila terbang di atasnya. Tentu saja Junghuhn tidak mempercayai cerita tersebut, beliau terus melanjutkan perjalanan menembus belantara. Sampai akhirnya menemukan danau kawah yang indah.

Dari dalam danau tersebut, keluar semburan lava serta bau belerang yang sangat menusuk hidung. Ternyata kandungan belerang yang sangat tinggi inilah yang menyebabkan burung enggan terbang diatasnya. Riwayat dan misteri Kawah Putih terus berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tak sedikit anggota masyarakat yang sampai saat ini masih menaruh kepercayaan bahwa puncak Gunung Patuha merupakan tempat berkumpulnya roh para leluhur. Sebagaimana dikemukakan oleh kuncen Kawah Putih, Abah Karna, bahwa di Kawah Putih terdapat beberapa makam leluhur diantaranya Eyang Jaga Satru, Eyang Rangga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jamrong.

Kawah Putih merupakan wisata alam yang terletak di Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Ciwidey berjarak 47 Km dari Kota Bandung, menuju arah selatan.

Danau Kawah Putih memiliki ciri khas air di danau kawahnya dapat berubah warna, kadang berwarna hijau apel kebiru-biruan bila terik matahari dan cuaca terang, kadang berwarna coklat susu. Paling sering terlihat airnya berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah.

Selain permukaan kawah yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi warna putih, karena itulah kawan ini disebut Kawah Putih.

“Surga yang Tercecer” di Kawah Putih

“Terentengtengtengteng” suara bising yang cantik tersebut keluar dari dalam knalpot Vespa yang saya kendarai. Singkat cerita, saya ingin menapakkan kedua kaki saya dalam dinginnya belerang di puncak Gunung Patuha.

Mungkin hanya segelintir orang yang mengetahui dimana letak Gunung Patuha itu berada. Karena Gunung Patuha lebih terkenal dengan sebutan Kawah Putih. Keindahan alam yang pernah saya rasakan tak membuat saya bosan untuk merasakannya kembali.

Kawah Putih yang terletak di Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Ciwidey berjarak 47 Km dari Kota Bandung, menuju arah selatan. Untuk sampai ketempat ini, saya harus melewati banyak sekali perkebunan Stroberi yang dikelola oleh petani lokal.

Semakin dekat dengan lokasi Kawah Putih membuat saya menambah laju kecepatan Vespa saya. Hawa dingin yang mencucuk tulang seolah alam mengucapkan “selamat datang dan silahkan bersenang-senang”.

Deretan perkebunan stroberi seolah melambaikan tangannya dan mengajak saya untuk rehat sebentar. Meskipun perjalanan ini bukan kali pertama, tetapi godaan stroberi itu memang sangat susah untuk diabaikan. Akhirnya saya memarkirkan Vespa dan memilih untuk beristirahat sambil menikmati beberapa buah stroberi. Merah merona bagaikan bibir Madonna merupakan warna stroberi yang saya makan saat itu. Hhemmp, “enaaaaak” begitulah bibir saya berucap saat menyentuh permukaan buah yang manis itu.

Aroma belerang yang simpang siur seolah mengingatkan saya untuk kembali meneruskan perjalanan. Sepanjang perjalanan terbentang alam indah pegunungan yang berada di kawasan tropis siap menjamu mata. Sawah dan ladang dengan pola terasering terus menemani sepanjang perjalanan menuju Kawah Putih.

Kendati matahari bersinar terik, udara dingin tetap memeluk erat tubuh ini. Akhirnya terlihat gerbang kayu dengan tulisan “Selamat Datang” dan logo Perhutani menyambut kedatangan saya. Bapak dan Ibu petugas berpakaian batik memberikan panduan dimana Vespa saya harus diparkir dan bagaimana bisa mencapai kawasan.

Di loket saya harus membayar sebesar 22 ribu rupiah. semua itu sudah termasuk tiket masuk Kawah Putih 15 ribu lalu dua tiket pulang pergi naik Ontang-Anting (angkot yang mengantar ke kawasan) dan tiket parkir motor.

Harga tiket masuk ini jauh lebih mahal dari harga tiket masuk ketika saya pertama kali kesini. Perbedaan ini membuat saya penasaran pada kualitas pelayanan dalam kawasan wisata Kawah Putih. Perbedaan pertama terasa sejak petugas loket memandu saya dan pengunjung lainnya untuk satu pintu ke kawasan, semua diatur oleh pengelola yaitu Perhutani. Tidak ada motor yang boleh naik ke kawasan tapi hanya mobil pribadi. Perjalanan menuju lokasi puncak saya dilanjutkan menggunakan ontang-anting.

Ontang Anting muat 14 orang, kiri dan kanannya terbuka sehingga kita dengan mudah mengambil gambar sepanjang jalan. Sekitar 10 menit sampailah kami di puncak Kawah Putih. Sayang saat itu hujan lebat dan kabut turun teramat tebal.

Tapi semua itu bukanlah alasan untuk saya berdiam diri dalam ontang-anting. Untunglah jas hujan sudah dibawa sejak awal. Menapaki tangga sekitar 50 meter dan sampailah kami di Kawah Putih. Sulfur tipis seolah menggelitiki hidung. Pesan dari pengeras suara mengingatkan agar pengunjung tidak makan dan minum di sekitar kawah karena bahaya untuk kesehatan, pesan ini diputar berulang kali bagaikan backsound perjalanan saya.

Pesona Kawah Putih menggoda saya untuk melangkah ke arahnya. Saya berdiri persis di tepi kawah dan memandang kagum pada lukisan indah hasil karya Sang Pencipta. Alhasil, saya berkata dalam hati bahwa “Kawah Putih itu adalah tempat dimana titisan surga pernah diturunkan ke bumi, begitu anggun, tenang, menghanyutkan”.

Pesona alam seperti kawah putih lah yang membuat saya merasakan surga dunia. Kepulan kabut asap selepas hujan mengitari semua pengunjung dan menghalangi pandangan dari keseluruhan indah yang ada. Saya tidak bisa menikmati tebing kapur yang membatasi Kawah, sang mentari bersembunyi di balik awan.

Saya hanya bisa menikmati sensasi misteri dari kabut sekitar. Lokasi ini jadi tempat pengambilan foto pra nikah paling digemari, lagi murah, cuma 350 ribu rupiah. Kami bertemu calon pengantin dengan pakaian terbuka bahu sementara suhu dingin luar biasa hingga mencapai 10 derajat celcius. Hebat. Sedangkan saya yang bersembunyi dibalik jaket tebal pun cukup tersiksa dengan dinginnya Kawah Putih.

Setalah cukup puas memandangi keindahan alam Kawah Putih. Saya memutuskan untuk menuju Hutan Cantigi. Cantigi merupakan salah satu vegetasi khas yang terdapat di dataran tinggi tropis. Tanaman ini bisa di temui di  berbagai pegunungan yang ada di tanah air.

Uniknya, warga setempat biasa mengkonsumsi buah cantiqi dan pucuk daunnya untuk dijadikan lalapan. “Rasanya manis kecut” ujar Risman, petugas kebersihan di kawasan tersebut. Sontak saya berpikir “ Wah, dasar orang Sunda. Sepertinya semua jenis dedaunan bisa dimakan.”

Suasana keheningan di tempat itu akan membawa suasana rileks. Resonansi batin dengan alam sekitar mampu mengisi batere kehidupan terisi kembali. Mungkin itu yang saya rasakan. Dari kejauhan terlihat para pengunjung memutar badannya dari pesona alam Kawah Putih. Nampaknya pengunjung tak akan betah berlama-lama diterpa dinginnya angin gunung yang menyelinap ke tulang sumsum.

“Temperatur di Kawah Putih bisa turun serendah 10°C pada siang hari dan 50°C pada malam hari “ hal tersebut terucap dari bibir seorang petugas, bernama Saepul. “Jika semilir angin membawa pergi kabut pekat uap belerang menjauh. Teriaklah kuat-kuat; konon akan diteruskan echo-nya oleh dinding-dinding padas ke surga. Berkeliling kawah pada saat musim kemarau cukup mudah dilakukan; mencari-cari sudut-sudut pandang terlupakan yang barangkali tercecer dari surga,” ujarnya mengakhiri penuh harapan.

Akhirnya sayapun memutuskan untuk pergi ke sebuah warung hanya untuk membeli segelas bandrek. Mungkin dengan bandrek mampu memberikan rasa hangat di tenggorokan yang kering. Begitulah pikiran saya pada saat itu. Dan benar saja, hangatnya segelas bandrek bagaikan pelukan selimut beserta bantal gulingnya. Tak terasa waktu menunjukan pukul 04:45 sore dan terdengar pengeras suara berbunyi kembali, kali ini mengingatkan pengunjung untuk turun dan keluar dari Kawah Putih sebelum jam lima sore saat bau belerang akan semakin pekat.

Meskipun ini merupakan kunjungan kedua kalinya di kawasan Kawah Putih, tapi kunjungan ke sana benar-benar berkesan. Selain menikmati keindahan dan kegagahan Kawah Putih, saya terkagum-kagum dengan pengelolaan wisata oleh Perhutani. Tidak ada sampah dimana pun, bahkan toilet umumnya bersih dan wangi. Sudah seharusnya begini tempat wisata publik dikelola. Memang pantas dengan harga tiket masuknya. (Aji Candra Asmara)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

 

Seputar Kita . Copyright 2013. All Rights Reserved. Revolution Theme-Template. Modified by Admin