Sampai saat ini, rumor tentang foto karya Kevin Carter
(Afrika Selatan) yang ada di halaman ini masih simpang siur. Foto peraih Hadiah
Pulitzer tahun 1994 yang menampilkan seorang anak kecil kurus kering dengan
latar belakang seekor burung pemakan bangkai ini hampir selalu dikaitkan dengan
peristiwa bunuh diri yang dilakukan pemotretnya.
Rumor yang beredar mengatakan, Carter bunuh diri
karena menyesal tidak menolong anak itu, tetapi malah memotretnya, bahkan lalu
meraih hadiah jurnalistik bergengsi.
Rumor yang tak jelas benar asal-usulnya ini bertutur
lebih jauh, Carter menulis di buku hariannya seusai memotret foto itu, ”Ya
Tuhan, aku tidak akan menyia-nyiakan makanan lagi walau rasanya setidak enak
apa pun.” Di situs BBC, jelas-jelas ada bantahan bahwa kalimat itu tidak pernah
ditulis atau diucapkan Carter di mana pun.
Dari penelusuran ke berbagai sumber, didapat
kesimpulan bahwa Carter tak mungkin bunuh diri karena foto itu. Carter tahu
benar bahwa anak itu tidak dalam bahaya sama sekali.
Tempat ramai
Foto itu dibuat bukan di tempat terpencil, melainkan
di sebuah acara pembagian makanan. Bahkan, Carter berlutut sekitar 20 menit di
depan anak itu. Ia memotret beberapa kali sampai tiba-tiba seekor burung
pemakan bangkai hinggap di latar belakang. Carter juga sempat menunggu agar
sang burung pemakan bangkai mengembangkan sayapnya untuk mendapatkan foto yang
lebih dramatis. Selain itu, orangtua atau kerabat si anak juga berdiri tak jauh
dari situ, sibuk meraih pembagian makanan. Seusai memotret, Carter juga sempat
mengusir sang burung pemakan bangkai.
Berikut ini cerita yang disampaikan Joao Silva yang
bersama Carter berada di tempat pemotretan, seperti dituturkan kepada penulis
Jepang, Akio Fujiwara, dan dimuat dalam buku berjudul The Boy who Became a
Postcard (terbitan Ehagakini Sareta Shonen).
Saat itu, tanggal 11 Maret 1993, Carter dan Silva
mendarat di bagian utara Sudan untuk meliput kelaparan parah yang sedang
terjadi di sana. Mereka berdua turun dari pesawat PBB yang memang akan
menurunkan bantuan pangan. Tim kesehatan PBB memberi tahu keduanya bahwa mereka
akan tinggal landas lagi 30 menit kemudian.
Dalam 30 menit itu, tim PBB memang membagi-bagikan
makanan. Carter dan Silva cukup terkesima melihat orang-orang kelaparan yang
berebut makanan pembagian. Anak yang dipotret Carter pun dipotret Silva walau
tidak dipublikasikan. Menurut Silva, Carter memotret dari jarak sekitar 10
meter dan di belakang Carter adalah suasana orang ramai berebut makanan.
Satu yang penting dari kejadian itu adalah seusai memotret,
Carter duduk di bawah pohon dan tampak tertekan.
”Dia berkata rindu dan ingin memeluk Megan, putrinya,”
kata Silva.
Carter memang punya seorang anak perempuan bernama
Megan, kelahiran 1977, di luar nikah dengan Kathy Davidson, seorang guru
sekolah.
Pada waktu bunuh diri pun, surat yang ditinggalkan
Carter berisi tulisan sebagai berikut: ”I am depressed ... without phone ...
money for rent ... money for child support ... money for debts ... money!!! ...
I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain
... of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of
killer executioners...I have gone to join Ken if I am that lucky...”
Carter bunuh diri 27 Juli 1994 beberapa pekan setelah
meraih Hadiah Pulitzer dengan cara menutup diri di dalam mobil pikupnya, lalu
mengalirkan gas knalpot ke dalam. Ia bunuh diri karena depresi pada kenyataan
hidup yang kejam dan keras. Carter juga menangisi kematian sahabatnya, Ken
Oosterbroek, sesama fotografer jurnalistik, yang meninggal saat meliput sebuah
kerusuhan.
Pembela kebenaran
Sebenarnya Carter yang lahir 13 September 1960 di
Johannesburg, Afsel, berjiwa pembela kebenaran sejak kecil.
Ibunya, Roma Carter, bercerita bahwa Kevin kecil
sering meradang kalau melihat seorang polisi kulit putih memperlakukan orang
kulit hitam dengan kejam. ”Kevin berteriak kepada ayahnya agar menghentikan
ulah polisi itu,” kata Roma.
Demikianlah, profesi sebagai fotografer jurnalistik
sering membawanya menjadi saksi peristiwa-peristiwa keji, seperti orang yang
dibakar hidup-hidup ataupun orang yang dibantai beramai-ramai di tengah
keramaian.
Carter tidak tahan hidup menjadi saksi kekejaman. Ia
memilih mengakhiri hidupnya.
Pertanyaan penting tentang mengapa foto karyanya penuh
dengan rumor, barangkali bisa merujuk pada pendapat Richard Winer, peneliti
misteri Segitiga Bermuda.
”Manusia pada dasarnya senang mitos. Walau sudah ada
penjelasan ilmiahnya, sebuah mitos atas suatu peristiwa selalu ada,” kata
Winer. (Ahmad Rifai)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar