Langit sudah berubah menjadi mendung, awan-awan putih
berubah menghitam. Rintik hujan sudah mulai turun membasahi kota ini. Sementara
itu di sebuah butik yang tak ada pembeli, karyawan Sani tengah mengamati ribuan
poster cewek berbikini di majalah. Air liurnya menetes sementara matanya asik menerawangi
setiap lekuk tubuh wanita yang mengundang birahi. Joko yang memperhatikan
sedari tadi ikut tertarik dengan apa yang dilihat Sani. Ketika melihat, tak
ayal sebuah kata sakti pun langsung terucap, “astaghfirullahal adzim.”
Sani balas memandang temannya itu dengan tatapan
mencela. “Yee, ganggu aja deh loe!”
“Kerja oi, kerja! Ngelamun jorok ga ada gunanya. Tuh
liat, toko jadi sepi ga ada pembeli!” kata Joko sedikit ketus.
“Emang gue pikirin! Kalau ga ada pembelinya itu memang
takdir, bukan salah gue. Emangnya gue bisa paksa-paksa orang buat beli baju di
toko ini.”
“Percaya takdir juga?” cibir Joko.
“Iya, tapi gue tetap ga percaya ama yang namanya
Tuhan.”
Tiba-tiba suara adzan bergema menurunkan kadar nafsu
Sani yang sudah meninggi. “Ahh, sial! Oi Joko, tuhan loe manggil tuh! Pergi
sana! Tutup pintunya!”
“Kalau ada pembeli gimana?”
“Nanti gue buka lagi kalo adzannya udah berhenti.”
=()=
Joko, keturunan dari keluarga Jawa yang taat beragama.
Ayahnya adalah seorang kyai di pesantren yang tersohor di Garut, sedangkan
ibunya seorang guru mengaji. Sejak usia 6 tahun, Joko sudah rutin mengerjakan
ibadah sholat 5 waktu. Di usia 10 tahun, dia bahkan sudah full puasa ramadhan
dan ga pernah tinggal semenjak itu. Itulah sebabnya dia begitu nyinyir melihat
kelakuan teman kerjanya , si Haryoko Sani alias Sani. Sani mengaku tak percaya
dengan ajaran agama. Walaupun di KTP-nya tertera agama Islam. Sejak mulai
bekerja disini, Joko selalu gundah dibuat kelakuan temannya itu. Apalagi ketika
bulan ramadhan tiba, Sani bahkan tak sungkan-sungkan makan dan minum di depan
Joko. Sungguh menyebalkan ketika ditanya mengapa dia tidak puasa, karena Sani
pasti langsung bilang kalau aturan agama hanya bisa menyiksa pemeluknya saja.
Untunglah Joko masih bisa menahan emosi. Kalau tidak, dia pasti sudah beraksi
layaknya tokoh NII.
“Bisakah kita berdiskusi tentang satu hal?” tanya Joko
sehabis pulang dari mesjid.
“Soal apa? Soal agama? Percuma, gue ga punya agama.”
“Enggak, ini bukan soal agama. Tapi soal Tuhan.”
“Tuhan itu ga ada!”
“Darimana ente tau?” Joko bertanya.
“Silakan, bawa Dia kemari kalau memang benar-benar
ada. Gue pengen liat!” kata Sani sembari tertawa mengejek.
“Tuhan itu bukan sesuatu yang bisa ditangkap oleh
penginderaan kita.”
“Itu, itu aja yang gue denger. Gue percaya sama tuhan
kalau Dia udah bisa gue sentuh kayak poster ini.” Kata Joko sembari meremas
poster sexy Britney Spears di majalah yang tergeletak di depan mereka.
“Oke, gue akan bawa Tuhan kemari. Tapi sebelum itu,
gue pengen loe nge-gambar buat gue. Mumpung kita lagi sepi pengunjung nih.”
“Gambar apa?”
“Pemandangan. Lengkap, ada orang-orangnya.”
“Sudah.”
“Mana?”
“Nih..” kata Sani sembari menyerahkan selembar kertas
pada Joko. Walau dibuat dengan tempo yang sebentar, gambar itu tetap terlihat
rapi.
“Loe liat, gue orangnya ga slebor. Tu gambar tetap gue
bikin bagus buat loe. Sekarang mana janji loe mau bawa Tuhan kemari?”
“Sabar, sebentar lagi mau gue tunjukin.” Kata Joko.
“Lihat lukisan ini, apa menurut loe gambar ini udah cukup bagus?”
“Tentu, gue udah bikin sesuai permintaan loe.”
“Yakin loe, gambar ini udah yang paling bagus?”
Sani mengambil kertas itu lagi dari tangan Joko. Meski
terkadang cuek, Joko tau Sani orangnya perfeksionis. Dia pasti tidak akan
terima kalau apa yang dia lakuin dibilang jelek sama orang lain. Gambar itu
diperhatikannya dengan seksama, sampai dia yakin kalau gambar itu tidak ada
kecacatannya.
“Nih, udah perfek! Gue yakin 100 persen”
“Pegang aja gambarnya.” Saran Joko. “Sekarang, bisa ga
loe buat gambar itu bicara dengan kita?”
“Gile! Lu kira gue dukun! Sialan, mau ngerjain gue?!”
“Eh, tenang.” Kata Joko sembari tersenyum, lucu
melihat tingkah polah Sani. “Kalau itu ga bisa, coba ajak mereka bicara aja
deh. Kan tadi loe bilang lukisan loe udah perfek.”
“Ga usah ngebodohi gue!”
“Gue ga lagi ngebodohi loe. Gue cuma pengen, loe
langsung ngomong ke mereka. Biar mereka tau siapa yang menciptakan mereka. Ga
salah kan?”
“Sinting! Kita disini berbeda dimensi ruang dengan
mereka. Lagipun meski lukisan itu udah gue buat perfek, dia itu tetap benda
mati. Mana bisa...”
Joko tersenyum mendengar jawaban Sani. Dia lalu
berkata, “Begitupun dengan Tuhan, Dia dan kita takkan bisa saling menyapa
karena alasan yang sama pula.”
“Itu alasan yang bodoh!” Bantah Sani. “Tuhan itu Maha
kuasa. Dia bisa membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.”
“Tahu juga loe kalo Tuhan itu Maha kuasa?” Joko
tertawa.
“Ya taulah! Gini-gini gue juga pernah ikut ngaji.”
“Kalau gitu pun, ente juga bisa melakukan hal yang
tidak mungkin menjadi mungkin pada orang di gambar itu”
“Bercanda?”
"Serius!"
Joko mengambil pulpen yang tergeletak di atas meja.
Lalu mulai melukis sesuatu pada gambar yang dibuat Sani. Dia mendongakkan
kepalanya ketika gambarnya telah selesai.”
“Lihat?”
Gambar itu masih sama. Hanya sebuah siluet panjang
melintas dari atas gambar pegunungan yang dibuat Sani, yakni sebentuk kilat,
yang menyambar tepat ke arah orang yang berdiri diam di sebuah rumah. Gambar
api lalu dibuat menggerayangi keduanya.
“Nah, gampang kan buatnya?”
“Lagi-lagi konyol!” kata Sani.
“Hey, Sani. Mengapa kau masih tidak percaya Tuhan?”
tanya Joko.
“Karena dia tidak bisa kusentuh. Meskipun kau
bersikeras mengatakan kalau dia ada.” Sani menjawab.
“Lalu kenapa kau begitu mengagumi Britney? Toh dia
belum pernah kau sentuh.” Cibir Joko. Menunjuk ke arah poster Britney di
majalah yang dipegang Sani sedari tadi.
“Ini? Tentu saja aku bisa. Bahkan menyetubuhinya pun
aku mampu.” Jawabnya.
“Buktikan!”
Tiba-tiba saja Sani menuju ke arah patung peraga yang
ada di toko. Dia mengangkatnya dan membawanya ke depan Joko. Disana, dia
merobek poster wajah Britney dan menempelnya di wajah patung itu. Kemudian
tanpa dikomandoi, Sani mulai menggerayangi tubuh patung berwajah diva itu.
“Astagfirullahaladzim. Sekarang lihat siapa yang
sinting?” kata Joko menggeleng-gelengkan kepala. (Abdu Faisal)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar