Blogger Widgets

Kamis, 02 Mei 2013

SEJARAH PERKEMBANGAN RETORIKA


Tulisan Tugas Kuliah Mahasiswa Komunikasi Terbaru:

Retorika Klasik

Lebih kurang, pada tahun 465 SM, Corax mengenalkan teori kemungkinan pada masyarakat Syracuse (koloni Yunani di pulau Sicilia) dalam bukunya "Techne Logon" (Seni Kata-Kata). Teori ini mirip ilmu silat lidah. Corax juga meletakkan dasar-dasar organisasi pesan. Ia membagi dalam lima bagian: pembukaan, uraian, argumen, penjelasan tambahan, dan kesimpulan. Dari sini, para ahli retorika kelak mengembangkan organisasi pidato.
Empedocles (490-430 SM), filsuf, mistikus, politisi, dan orator di Pulau Sicilia, tetapi di Aprigentum. Ia mengajarkan pada Gorgias, prinsip-prinsip retorika. Belakangan prinsip-prinsip ini dijual Gorgias kepada penduduk Athena di tahun 427 SM. Disana ia mendirikan sekolah retorika. Gorgias menekankan dimensi bahasa yang puitis dan teknik bicara impromtu (improvisasi, atau biasa disebut pidato tanpa naskah). Demosthenes lain lagi, ia tidak mengembangkan gaya bicara berbunga-bunga, tetapi jelas dan keras. Ia menggabungkan metode narasi dan argumentasi. Pidatonya yang terkenal "Perihal Mahkota" berhasil menyingkirkan saingannya sesama orator bernama Aeschines yang menentangnya dalam hal penerimaan mahkota yang didapat Demosthenes atas kenegarawaan serta jasa-jasanya bagi negara.
Di tahun 391 SM, Socrates yang anti pada kaum Sophis akhirnya mendirikan sekolah retorika sendiri. Kemudian muridnya, Plato menyempurnakan teori retorika yang dibuat Socrates yang membawa orang kepada hakikat – Plato membahas organisasi, gaya, dan penyampaian pesan. Dalam karyanya, Dialog, Plato menganjurkan para pembicara untuk mengenal jiwa pendengarnya. Kemudian murid Plato yang paling cerdas, Aristoteles, melanjutkan kajian retorika ilmiah dan menulis tiga jilid buku yang berjudul De Arte Rhetorica. Di dalamnya kita memperoleh lima tahap penyusunan pidato, yaitu:
Inventio (penemuan). Dimana pembicara menggali topik dan meneliti khalayak untuk mengetahui metode persuasi yang paling tepat. Disini dituntut seorang pembicara harus terlebih dahulu membekali dirinya dengan ethos, pathos, dan logos. Lalu kemudian memikirkan entimem, yaitu sejenis silogisme yang tidak lengkap karena sebagian premis dihilangkan, tidak untuk dijadikan pembuktian ilmiah, namun cukup menimbulkan keyakinan. Untuk hal ini, kesimpulan didapat dari menghilangkan premis mayor (hal yang umum) dan menggantinya dengan premis minor (hal yang khusus).
Dispositio (penyusunan). Dimana pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan. Pesan harus dibagi ke dalam beberapa bagian yang berkaitan secara logis, meliputi: pengantar, pernyataan, argumen, dan epilog.
Elocutio (gaya). Dimana pembicara memilih kata-kata dan menggunakan bahasa yang tepat untuk mengemas pesannya.
Memoria (memori). Dimana pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikan dengan mengatur bahan-bahan pembicaraannya.
Pronuntiatio (pengucapan), pada tahap ini pembicara menyampaikan pesannya secara lisan. Teori Hypocrisis nya Demosthenes, yaitu menyeragamkan olah suara dengan gerak anggota badan.

Retorika Modern

Roger Bacon (1214-1219) memperkenalkan metode eksperimental yang menyadarkan betapa pentingnya proses psikologis dalam studi retorika. Ia menyatakan, "... kewajiban retorika ialah menggunakan rasio dan imajinasi untuk menggerakkan kemauan secara lebih baik." Rasio, imajinasi, kemauan kelak menjadi kajian utama ahli retorika modern.
Aliran Retorika Modern:
Epistemologis (membahas teori pengetahuan, asal-usul, sifat, metode, dan batas-batas pengetahuan manusia). George Campbell (1719-1796), dalam bukunya The Philosophy of Rhetoric, mendefinisikan retorika sebagai sesuatu yang harus diarahkan kepada upaya mencerahkan pemahaman, menyenangkan imajinasi, menggerakkan perasaan, dan mempengaruhi kemauan.
Aliran Belles Lettres (Tulisan yang Indah). Hugh Blair (1718-1800) menulis Lectures on Rhetoric and Belles Lettres. Disini ia menjelaskan hubungan retorika, sastra, dan kritik. Kata Blair, kesempurnaan dicapai ketika kenikmatan indrawi dipadukan dengan rasio, dan rasio dapat menjelaskan sumber-sumber kenikmatan.
Aliran Elokusionis (menekankan pada teknik penyampaian pidato). Gilbert Austin, memberikan petunjuk praktis penyampaian pidato. "Pembicara tidak boleh melihat melantur. Ia harus mengarahkan matanya langsung kepada pendengar, dan menjaga ketenangannya. Ia tidak boleh segera melepaskan seluruh suaranya, tetapi mulailah dengan nada yang paling rendah dan mengeluarkan suaranya sedikit saja; jika ia ingin mendiamkan gumaman orang dan mencengkeram perhatian mereka."

Saat ini, Retorika lebih dikenal dengan nama public speaking, oral communication, atau speech communication. Diajarkan dan diteliti pada lingkungan akademis. (Abdu Faisal)

Resume Buku Bab I : Jalaluddin Rakhmat. 1992. Retorika Modern, Pendekatan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

 

Seputar Kita . Copyright 2013. All Rights Reserved. Revolution Theme-Template. Modified by Admin