Tulisan
Tugas Kuliah Mahasiswa Komunikasi Terbaru:
Retorika
Klasik
Lebih
kurang, pada tahun 465 SM, Corax mengenalkan teori kemungkinan pada masyarakat
Syracuse (koloni Yunani di pulau Sicilia) dalam bukunya "Techne
Logon" (Seni Kata-Kata). Teori ini mirip ilmu silat lidah. Corax juga
meletakkan dasar-dasar organisasi pesan. Ia membagi dalam lima bagian:
pembukaan, uraian, argumen, penjelasan tambahan, dan kesimpulan. Dari sini,
para ahli retorika kelak mengembangkan organisasi pidato.
Empedocles
(490-430 SM), filsuf, mistikus, politisi, dan orator di Pulau Sicilia, tetapi
di Aprigentum. Ia mengajarkan pada Gorgias, prinsip-prinsip retorika.
Belakangan prinsip-prinsip ini dijual Gorgias kepada penduduk Athena di tahun
427 SM. Disana ia mendirikan sekolah retorika. Gorgias menekankan dimensi
bahasa yang puitis dan teknik bicara impromtu (improvisasi, atau biasa disebut
pidato tanpa naskah). Demosthenes lain lagi, ia tidak mengembangkan gaya bicara
berbunga-bunga, tetapi jelas dan keras. Ia menggabungkan metode narasi dan
argumentasi. Pidatonya yang terkenal "Perihal Mahkota" berhasil
menyingkirkan saingannya sesama orator bernama Aeschines yang menentangnya
dalam hal penerimaan mahkota yang didapat Demosthenes atas kenegarawaan serta
jasa-jasanya bagi negara.
Di
tahun 391 SM, Socrates yang anti pada kaum Sophis akhirnya mendirikan sekolah
retorika sendiri. Kemudian muridnya, Plato menyempurnakan teori retorika yang
dibuat Socrates yang membawa orang kepada hakikat – Plato membahas organisasi,
gaya, dan penyampaian pesan. Dalam karyanya, Dialog, Plato menganjurkan para
pembicara untuk mengenal jiwa pendengarnya. Kemudian murid Plato yang paling
cerdas, Aristoteles, melanjutkan kajian retorika ilmiah dan menulis tiga jilid
buku yang berjudul De Arte Rhetorica. Di dalamnya kita memperoleh lima tahap
penyusunan pidato, yaitu:
Inventio
(penemuan). Dimana pembicara menggali topik dan meneliti khalayak untuk
mengetahui metode persuasi yang paling tepat. Disini dituntut seorang pembicara
harus terlebih dahulu membekali dirinya dengan ethos, pathos, dan logos. Lalu
kemudian memikirkan entimem, yaitu sejenis silogisme yang tidak lengkap karena
sebagian premis dihilangkan, tidak untuk dijadikan pembuktian ilmiah, namun
cukup menimbulkan keyakinan. Untuk hal ini, kesimpulan didapat dari
menghilangkan premis mayor (hal yang umum) dan menggantinya dengan premis minor
(hal yang khusus).
Dispositio
(penyusunan). Dimana pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan.
Pesan harus dibagi ke dalam beberapa bagian yang berkaitan secara logis,
meliputi: pengantar, pernyataan, argumen, dan epilog.
Elocutio
(gaya). Dimana pembicara memilih kata-kata dan menggunakan bahasa yang tepat
untuk mengemas pesannya.
Memoria
(memori). Dimana pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikan dengan
mengatur bahan-bahan pembicaraannya.
Pronuntiatio
(pengucapan), pada tahap ini pembicara menyampaikan pesannya secara lisan.
Teori Hypocrisis nya Demosthenes, yaitu menyeragamkan olah suara dengan gerak
anggota badan.
Retorika
Modern
Roger
Bacon (1214-1219) memperkenalkan metode eksperimental yang menyadarkan betapa
pentingnya proses psikologis dalam studi retorika. Ia menyatakan, "...
kewajiban retorika ialah menggunakan rasio dan imajinasi untuk menggerakkan
kemauan secara lebih baik." Rasio, imajinasi, kemauan kelak menjadi kajian
utama ahli retorika modern.
Aliran
Retorika Modern:
Epistemologis
(membahas teori pengetahuan, asal-usul, sifat, metode, dan batas-batas
pengetahuan manusia). George Campbell (1719-1796), dalam bukunya The Philosophy
of Rhetoric, mendefinisikan retorika sebagai sesuatu yang harus diarahkan
kepada upaya mencerahkan pemahaman, menyenangkan imajinasi, menggerakkan
perasaan, dan mempengaruhi kemauan.
Aliran
Belles Lettres (Tulisan yang Indah). Hugh Blair (1718-1800) menulis Lectures on
Rhetoric and Belles Lettres. Disini ia menjelaskan hubungan retorika, sastra,
dan kritik. Kata Blair, kesempurnaan dicapai ketika kenikmatan indrawi
dipadukan dengan rasio, dan rasio dapat menjelaskan sumber-sumber kenikmatan.
Aliran
Elokusionis (menekankan pada teknik penyampaian pidato). Gilbert Austin,
memberikan petunjuk praktis penyampaian pidato. "Pembicara tidak boleh
melihat melantur. Ia harus mengarahkan matanya langsung kepada pendengar, dan
menjaga ketenangannya. Ia tidak boleh segera melepaskan seluruh suaranya,
tetapi mulailah dengan nada yang paling rendah dan mengeluarkan suaranya
sedikit saja; jika ia ingin mendiamkan gumaman orang dan mencengkeram perhatian
mereka."
Saat ini, Retorika lebih dikenal
dengan nama public speaking, oral communication, atau speech communication.
Diajarkan dan diteliti pada lingkungan akademis. (Abdu Faisal)
Resume
Buku Bab I : Jalaluddin Rakhmat. 1992. Retorika Modern, Pendekatan Praktis.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Tidak ada komentar :
Posting Komentar